Alhamdulillah dah sambut Syawal yang ke 12 rasanya, haritok 1433 Hijrah. Semoga Allah SWT menambah kesihatan kepada kita sekalian. Pagi tok mendapat berita dari seberang, di Kota nya Para Wali di Nusantara, Jakarta Indonesia. Guru, Murobbi merangkap sahabat yang banyak mengajar ana tentang satu 'padang' ilmu yang kian kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW lupa. Seperti sabda Baginda saw:
"Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah kecintaan terhadap keluarga , banyak-nya harta dan bertambahnya usia” (hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu)
Ilmu yang ana dimaksudkan adalah 'Ilmu Nasab'. Ramai, malah sik kurang yang memandang rendah tentang hal tok sedangkan Nabi saw sendirik memberik pesan khususnya kepada kita, siapapun kita, asalkan orang islam, muslim, supaya beriman maka dipesan oleh Baginda akan seperti yang disebut di atas. Baginda saw sendirik memberik contoh, di mana mun ditanyak siapa namanya, maka akan disebut baginda akan namanya:
Dalam Kanzul Ummal 6: 300, kitab Fadhail, hadis ke 35512 disebutkan:Ibnu Abbas berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam “Aku adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma’da bin ‘Adnan bin Adda bin Udada bin Hamyasa’ bin Yasyhab bin Nabat bin Jamil bin Qaidar bin Ismail bin Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Asyu’ bin Ar’us bin Faligh bin ‘Abar (Hud) bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lumka bin Mutawasysyalikh bin Akhnukh (Idris) bin Azda bin Qinan bin Anwasy bin Syayts bin Adam (as).” Al-Muttaqi Al-Hindi mengatakan: Hadis ini diriwayatkan oleh Ad-Daylamni
Ahlul Siyar wal ansab/Para sejarawan dan ahli nasab menyepakatinya susunan nasab baginda sampai ke Adnan dan ada khilaf ataupun para ahlinya hanya mengambil sikap berdiam berkenaan susunan nama dari datuknya Adnan ke Nabi Ibrahim as dan juga tidak diragukan lagi ada riwayat yang tidak sahih berkenaan susunan nasab dari Nabi Ibrahim as sehingga Nabi Adam as.
Tentang isu susunan ya kita serah jak kepada pakarnya ahli nasab, namun contoh yang ana maksudkan adalah betapa Rasul saw, mengambik berat tentang nasabnya sehingga baginda INGAT dan TAHU nama nya sehingga ke datuknya Adnan, sekurang-kurangnya. Sik ternafikan lagik saat kita baca maulid, apa pun, pasti ada bait-bait Rasulullah saw menyebut namanya sehingga ke Adnan. Tapi cuba diat dirik kita. Sampey siney jak kita ingat? paling jaik, sengan nama datuk, ya pun kadang-kadang lupak!. Maka kita ambiklah ibrah atas saranan baginda saw tentang pentingnya 'KENAL NASAB'. Wallahua'lam.
Berbalit dengan cerita tadik (udah cerita lain di atas, tapi ana rasa penting untuk kita sama-sama tahu, sekadar ia adalah perkongsian dari ana, mun ada kurang dan silap ana mohon maaf). Guru ana yang mengajarkan ana tentang nasab, Habib Alidin (kalau nama sebenarnya Ali Zainal Abidin) bin Hassan Assegaf, asal Palembang, Sumatera Indonesia, (Hbb juga adalah guru kepada Ustaz Izzudin bin kamaluddin dalam hal nasab) PM dengan ana melalui FB, tepatnya jam 0825, saat ana di kantor Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) Sarawak, dengan nada yang lain dari sebelum tok...(sebahagian petikan dari chatnya sang Hbb)
Al-Afwu... Sebetulnya, tujuan ana hanya berkongsi. Tatkala kita mempersoalkan betapa sikitnya orang peduli soal nasab (sendirik, bukannya nasab orang lain), tapi ada juak yang mengaku-ngaku faham, dan ambik berat tentang tok, tapi sebenarnya membuat dosa yang sangat besar. Jika seorang yang mengaku si fulan yang bukan ayahnya sebagai ayahnya, hukumnya adalah berdosa, macamney dengan mereka yang mengatakan bahawa nasab seorang itu terputus padahal TIDAK kerana ia dijaga rapi dengan segala bukti manuskrip lama, simpanan salsilah ataupun saksi hidup yang boleh mengesahkannya. Semoga Allah swt memberi inayah, taufiq dan hidayah, dalam kita menelusuri perjalanan hidup samada bentuk spiritual atau fizikal kita, dan semoga berkat Junjungan Mulia Saiyidina Muhammad saw, kita tok di bumi tempat berpijak, akan mampu, terus dan terus, ngambik iktibar, di madarasah kehidupan, yang sik tauk bila akan berakhir. Wallahua'lam... Firman Allah swt:
Surah An Nisa’, Ayat 78
Di mana jua kamu berada, maut akan mendapatkan kamu (bila sampai ajal), sekalipun kamu berada dalam benteng-benteng yang tinggi lagi kukuh dan kalau mereka beroleh kebaikan (kemewahan hidup), mereka berkata: Ini adalah dari sisi Allah dan kalau pula mereka ditimpa bencana, mereka berkata: Ini adalah dari (sesuatu nahas) yang ada padamu. Katakanlah (wahai Muhammad): Semuanya itu (kebaikan dan bencana) adalah (berpunca) dari sisi Allah. Maka apakah yang menyebabkan kaum itu hampir-hampir tidak memahami perkataan (nasihat dan pengajaran)?Surah An Nisa’, Ayat 79
Apa jua kebaikan (nikmat kesenangan) yang engkau dapati maka ia adalah dari Allah dan apa jua bencana yang menimpamu maka ia adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri dan Kami telah mengutus engkau (wahai Muhammad) kepada seluruh umat manusia sebagai seorang Rasul (yang membawa rahmat) dan cukuplah Allah menjadi saksi (yang membuktikan kebenaran hakikat ini)Renung-renungkan...